Strategi Branding dan Marketing Sepatu Compass X Fxxking Rabbits yang Kece Abis!!!

Penulis :

Zalfa Qanitah - 210710190003

Utari Liani N - 210710190005

Muhammad Reza Aliansyah - 210710190007

            Akhir-akhir ini masyarakat ramai memperbincangkan iklan yang tersebar di beberapa penjuru kota Jakarta. Iklan tersebut mengundang rasa penasaran besar dari masyarakat. Pasalnya iklan tersebut hanya bertuliskan “iklan ini tidak lulus sensor” dengan latar berwarna kuning mencolok. Ternyata saat diperhatikan secara seksama, iklan tersebut merupakan iklan kolaborasi dari brand Sepatu Compass dengan brand Fxxking Rabbits karena terdapat tulisan Compass dan #FR2 pada iklan tersebut.

            Compass merupakan brand sepatu asal kota Bandung yang didirikan pertama kali oleh Alm. Kahar Setiadi pada tahun 1988. Pada awal berdirinya, compass memiliki nama Brand Gazelle Sport dimana saat itu compass masih berbentuk usaha kecil milik keluarga. Setelah itu didirikanlah brand sepatu compass pada tahun 1998 oleh anaknya yaitu Ir. Kahar Gunawan, yang bertahan sampai sekarang. Dilansir dari situs HBX, Fxxking Rabbits atau yang biasa disebut #FR2 sendiri merupakan suatu brand asal Jepang yang dikepalai oleh seorang tokoh streetwear ikonik Tokyo yaitu Ryo Ishikawa. #FR2 memiliki ciri khas sebagai brand yang berani dan sarat akan hal sensual, Fxxking Rabbits memadukan dunia fashion, desain, dan fotografi dengan visual berani dan tidak lazim yang dituangkan pada produk seperti kaos, hoodie, ikat pinggang, dan tas.

            Secara keseluruhan, iklan Sepatu Compass dan FR2 didominasi oleh warna kuning sebagai warna latar tulisan. Warna kuning tersebut berasal dari brand Fxxking Rabbits yang memang identik dengan logo berwarna kuning. Kebudayaan Jepang merepresentasikan warna kuning sebagai sinar matahari dan alam Jepang. Masih dalam kebudayaan Jepang, warna kuning juga dimaknai sebagai keberanian. Secara umum warna kuning juga memengaruhi atensi khalayak karena mencolok dan paling terang selain warna putih (Monica & Luzar, 2011).

Jenis huruf yang digunakan dalam iklan adalah Times New Roman dan bebas. Warna yang digunakan untuk huruf adalah hitam sehingga terkesan simple dan tegas. Biasanya, produsen akan memasukkan banyak informasi ke dalam iklan agar khalayak memiliki keyakinan terhadap kebermanfaatan produk dan keuntungan yang akan mereka dapatkan apabila menggunakan produk tersebut. Namun, Sepatu Compass dan FR2 memilih jalan lain. Kedua brand tersebut tidak menyisipkan banyak informasi dalam iklan mereka. Mereka hanya menyisipkan tanggal perilisan produk di Indonesia, tempat dimana khalayak dapat membeli produk mereka, dan tak lupa, brand mereka sebagai produsen.

Sepatu Compass dan FR2 juga tidak mendeskripsikan produk mereka dalam iklannya. Strategi unik yang mereka gunakan adalah dengan menempatkan seekor kelinci putih bermata merah di sebelah kiri huruf C (untuk poster Compass) dan di sebelah kiri huruf awal merek-merek FnB yang menjadi partner promosi.

Bahasa yang digunakan dalam iklan yaitu ‘Iklan Ini Tidak Lulus Sensor’ adalah sebuah konstruksi dari logo Fxxking Rabbits atau FR2 yang sarat akan makna sensual. Perbedaan budaya antara FR2 (Jepang) dan Sepatu Compass (Indonesia) juga menjadi alasan mengapa iklan tersebut di rekonstruksi. Hal tersebut juga terlihat dengan perubahan logo FR2 pada iklan-iklannya dengan Sepatu Compass yang hanya menampilkan seekor kelinci putih. Padahal, di Jepang sendiri, logo FR2 adalah dua ekor kelinci berwarna putih. Namun, Sepatu Compass berhasil mengadopsi budaya Fxxking Rabbits dengan tetap menjaga nilai budaya indonesia. Terlebih logo Fxxking Rabbits memang bermakna vulgar dan bagi masyarakat, sesuatu yang berkaitan dengan seks adalah tabu (Gunawan & Junaidi, 2020).

Branding campaign yang dilakukan Compass dengan menyebarkan iklan “Iklan Ini Tidak Lulus Sensor” di Jakarta dan sosial media ini sukses menyita perhatian publik dan menjadi perbincangan di media sosial. Aksi menguningkan Jakarta ini menggunakan videotron. Compass dan FR2 bahkan menyulap stasiun dan rangkaian gerbong MRT Jakarta menjadi kuning.


    Bila kita amati terdapat perbedaan logo pada produk kolaborasi asal Indonesia x Jepang. Pada logo yang dirilis di Jepang menggambarkan dua kelinci yang sedang bersenggama sedangkan pada logo yang dirilis di Indonesia memfokuskan pada tulisan “COMPASS” dan terdapat hiasan kelinci pada ujung huruf C. Menjunjung aspek budaya dan etika yang berbeda yang menyesuaikan negara masing-masing. 



Kolaborasi kedua merek besar yaitu Compass dan Fxxking Rabbit terinspirasi dari budaya red thread of fate atau takdir benang merah yang begitu populer ini adalah salah satu budaya yang diadaptasi dari Tiongkok yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih sebelum menikah, masing-masing akan mengikat jarinya dengan benang merah.

Indonesia yang mempunyai berbagai budaya dan keberagaman suku menghasilkan berbagai kebiasaan salah satunya keluarga keturunan Tionghoa yang dikenal dengan Sangjit masih melakukan red thread of fate. 

Kolaborasi dari sepatu ini mencoba mengeksekusi budaya yang diaplikasikan ke dalam buah karya yang mereka hasilkan, bila diperhatikan pada masing masing lidah sepatu terdapat bordiran kelinci dan kedua bordiran kelinci terhubung satu sama lain dengan benang warna merah. Biasanya setelah dibuka dari box , benang merah itu harus terlebih dulu dipotong selayaknya salah satu peresmian gedung atau peresmian suatu tempat usaha. Hal ini mengisyaratkan atau ditafsirkan sebagai selebrasi pertukaran culture kedua negara dan identitas brand masing-masing.

   

 

Uniknya sepatu ini  menggunakan sole sepatu transparan dengan foto kelinci karya Ryo Ishikawa di dalamnya, dan bagian samping sole terdapat identitas merek sepatu ini. Berbeda dengan sepatu yang dirilis di Indonesia soalnya berwarna hitam dengan midsole putih, sedangkan Jepang memiliki warna dasar putih dengan midsole hitam.Perbedaan midsole pada sepatu Compass x Fxxking Rabbit pada rilisan Jepang dan Indonesia menunjukkan toleransi dan perbedaan nilai yang dianut oleh masing-masing negara.

Hinanchu, drummer band Slient Siren, direkrut sebagai model untuk mempromosikan kolaborasi ini. Ia adalah perempuan asal Jepang yang ternyata pernah tinggal dan bisa berbahasa Indonesia, wajahnya terpampang jelas di depan tiga cabang toko Fxxking Rabbit, termasuk di Harajuku. Semua detail yang terdapat pada buah kolaborasi antara dua brand terkenal ini menafsirkan berbagai nilai terutama menonjolkan nilai budaya dan identitas asal brand ini. Pemilihan modelnya pun begitu dipikirkan matang, hingga terciptalah framing kuat bahwa sepatu ini adalah wajah dari dua negara. Dalam membranding produk kolaborasinya, Compass dan Fxxking Rabbits menggunakan 3 media yang berbeda, adapun pembahasannya adalah sebagai berikut: 


1. Videotron 

Videotron atau LED display adalah media yang menampilkan video atau teks. Biasanya videotron digunakan dalam ruangan atau outdoor. Dalam dunia digital visual advertising, kelebihan videotron adalah kemampuannya dalam bergerak sehingga iklan terlihat lebih menarik. Seperti yang kita lihat bahwa terdapat videotron sebelum pintu masuk mall. Sehingga Brand image serta brand awareness yang didapatkan akan lebih maksimal. Ini adalah media komunikasi satu arah di mana masyarakat mengetahui program atau iklan yang sedang berjalan. 

Penempatan videotron pada pintu masuk mall juga salah satu upaya media advertising tool yang paling efektif dan atraktif di tengah-tengah ramainya suasana atau situasi pada saat itu, sebagaimana yang kita ketahui bahwa mall biasanya berada tepat di samping jalan raya. Konten videotron yang ditampilkan adalah tulisan bergerak pada kata pada kalimat “Iklan Ini Tidak Lulus Sensor” disusul dengan tulisan “COMPASS” dan seekor kelinci yang melompat ke arah tulisan “COMPASS”, kelinci tersebut juga mencium “C” pada kata COMPASS kemudian muncul simbol atau gambar love.

Menggunakan videotron dalam pengemasan iklan mereka merupakan upaya menyadarkan orang-orang akan hadirnya kolaborasi antar brand atau untuk menimbulkan awareness kepada masyarakat. Pemilihan tepat di pintu masuk mall juga menunjukkan brand ini atau sepatu ini cocok untuk menjadi pilihan barang belanja di bulan November nanti atau sebagai peringatan untuk menyisihkan budget belanja untuk membeli sepatu kolaborasi kedua brand ini.

Berita atau iklan pada videotron sengaja dirancang oleh komunikator. Bagaimana komunikator membuat berita atau rancangan iklan tergantung pada lingkungan khalayak yang ingin dituju atau lingkungan kerjanya. Lingkungan ini dibentuk oleh faktor ekonomi, sosial, politik, dan teknologi, yang semu aspeknya membentuk keterkaitan yang erat antara komponen komersial, etika, peraturan, dan budaya. Fenomena videotron dan iklan kolaborasi antara dua brand besar ini menggambarkan upayanya dalam mengkolaborasikan komunikator, berita, dan media baru di era digital. Mengeksplorasi bagaimana teknologi, ekonomi, dan perubahan sosial telah mengatur ulang komunikator pesan ini dan berpapasan dengan konsekuensi dari transformasi era demokrasi yang dinamis (Fenton, 2009).

Bila merujuk pada fakta di buku tersebut maka berita atau iklan ini sengaja dirancang untuk lingkungan khalayak yang menengah ke atas dimana lifestyle mereka mall adalah tempat biasa yang sering mereka kunjungi. Komponen komersial, etika, dan budaya juga menunjukkan manusia modern era kini. Iklan ini atau pesan yang muncul pada videotron berupaya untuk menyamakan atau dekat dengan lingkungan masyarakat era kini dengan mengeksplorasi teknologi yaitu pemilihan videotron sendiri sebagai medianya dan memvisualisasikan sesuai selera masyarakat kini atau anak muda pada umumnya simple namun membekas.

Desain iklan minimalis berwarna kuning dengan kelinci putih beserta headline “Iklan Ini Tidak Lulus Sensor” tersebar di Jakarta membuat publik penasaran, banyak yang mengabadikan momen tersebut dan menjadi viral di media sosial tentunya hal ini menguntungkan bagi instansi atau pemilik brand ini. Menimbulkan “omongan orang” sehingga tercipta promosi gratis antar mulut.

 

2. MRT 

 



Trik marketing yang dilakukan oleh kolaborasi brand ini sangat baik dari segi kreativitas, penempatan iklan yang dilakukan sangatlah tidak terduga. Compass x Fxxking Rabbits ini sangat menarik perhatian masyarakat sekitar sekaligus menambah estetika tempat-tempat tanpa hilangnya tujuan untuk mengiklankan produk kolaborasi ini. Terlihat dari gambar diatas bahwa kolaborasi kedua brand ini mengiklankan iklannya di MRT Jakarta, Compass dan FR2  melirik MRT sebagai tempat mempromosikan produk mereka. 

Produk kolaborasi antar dua brand ini menempatkan iklannya pada pilar dan dinding stasiun serta gerbong MRT. konten atau tulisannya adalah “Iklan Ini Tidak Lulus Sensor” dengan menggunakan size besar di tengah. Iklan di Stasiun MRT berorientasi portrait sedangkan pada videotron berorientasi landscape. Selain itu, di pojok kanan bawah terdapat tulisan ‘Tokopedia’ yang menunjukkan bahwa produk dapat dibeli di Tokopedia. Compass memilih Tokopedia sebagai media untuk berjualan karena Tokopedia merupakan e-commerce buatan Indonesia. Pemilihan Tokopedia sebagai e-commerce sarana penjualan mengartikan bahwa Sepatu Compass mendukung karya anak bangsa. Sedangkan tulisan ‘28 November 2020’ di pojok kiri bawah adalah sebagai informasi tanggal peluncuran produk.


 

Pada visualisasi iklan yang merombak stasiun dan rangkaian gerbong MRT Jakarta menjadi kuning, menunjukkan bahwa iklan ini sudah dikonstruksi komunikator untuk menciptakan brand awareness dimana brand ini dapat melekat pada setiap kegiatan masyarakat hingga saat di jam-jam sibuk seperti menunggu kereta, berkejaran dengan jadwal kereta melaju kolaborasi brand ini hadir dan selalu menemani aktivitas dengan kata lain buah kolaborasi berupa sepatu ini dapat menjadi pilihan tepat untuk masyarakat. Penulisan ‘28 November 2020’ pada konten iklan juga menunjukkan bagaimana komunikator mencoba masuk atau memberikan nilai sesuai khalayak sasaran, pada kasus MRT ini khalayak adalah orang-orang yang berpacu pada waktu, mereka mencoba mengingatkan bahwa “Ingat ya, tanggal peluncuran kami” bak alarm untuk orang yang aktivitasnya penuh kegiatan.


    Pada pengiklanan di area MRT Jakarta kelinci khas fxxking rabbits x Compass ini ditambahkan atribut masker, bagi sebagian orang yang tidak paham kelinci sebagai simbol atau maskot kolaborasi kedua brand ini akan menafsirkan ini adalah pesan atau himbauan untuk selalu memakai masker. Padahal mungkin komunikator mencoba menyampaikan bagaimana dekatnya produk kolaborasi ini dengan keadaan dan lingkungan masyarakat mereka berusaha menyampaikan pesan tersirat untuk selalu ingat produk kolaborasi mereka sama halnya bagaimana masyarakat tidak pernah melupakan maskernya.

Di dalam gerbong MRT, mereka menempatkan iklan yang sama. Perbedaannya, Compass menyelipkan kampanye agar masyarakat memakai masker ketika berada di ruang publik melalui kelinci Fxxking Rabbits yang memakai masker dan selalu ingat brand mereka seperti halnya masker yang tak pernah lupa.

Iklan ini menghias tembok-tembok di stasiun MRT dengan tampilan iklan yang sama seperti yang ditampilkan di videotron, yaitu gambar seekor kelinci putih bermata merah yang membelakangi kamera berdiri memeluk huruf C di awal kata Compass. Bila kita coba untuk mengidentifikasikan khalayak atau sasaran iklan ini ialah yang memiliki setumpuk aktivitas, berpacu pada waktu. Seakan ingin menyampaikan sepatu ini layak menjadi teman untuk santai, lari mengejar jadwal kereta, namun berkelas dan elegan sebagaimana yang kita tahu bahwa pengguna MRT adalah mayoritas pekerja kantoran, Jakarta terkenal dengan style khas modern


            Mengamati konten iklan yang memiliki pesan dan nilai tersirat yang membutuhkan daya kreativitas tinggi, bila kita lihat lebih dalam pesan atau konten di dalamnya bukan hanya menguntungkan instansi atau pemilik brand namun, juga masyarakat dimana mereka juga menyelipkan pesan untuk selalu memakai masker terlebih di tempat umum.

            Mereka menjual nilai, cerita, dan brand awareness, bila kita kaji pada pengiklanan kolaborasi kedua brand ini memilih MRT Jakarta menunjukkan nilai yang patut dipertanyakan, seakan mereka menciptakan kedekatan khusus dengan masyarakat Jakarta. Entah apakah sepatu ini merujuk pada masyarakat metropolitan atau membujuk masyarakat untuk menjadikan sepatu ini sebagai lifestyle mereka mencoba masuk ke dalam pemikiran mereka dengan menciptakan brand awareness. Mereka juga menjual cerita, bagaimana keadaan masyarakat dan lingkungan saat ini yang masih dalam suasana pandemi Covid-19 dengan menyisipkan masker di kelinci tersebut.

 

3. Fxxking Cuisine

            Fxxking Cuisine merupakan salah satu movement yang masih termasuk dalam rangkaian strategi marketing dari Compass x Fxxking Rabbits. Untuk mewujudkan movement ini, compass bekerja sama dengan 4 merek bisnis food and beverages yang sangat familiar di kalangan anak muda, yaitu Eatlah, Dua Coffee, Byurger, dan Pizza Place. Kolaborasi ini direalisasikan dalam bentuk kemasan makanan yang diubah desainnya untuk menyesuaikan nilai dan desain visual dari Compass x Fxxking Rabbits,  di bawah ini merupakan contoh dari movement Fxxking Cuisine yang dijual secara massal di gerai-gerai FnB terkait. 


    Strategi marketing semacam ini sangat jarang diterapkan di Indonesia sehingga menjadi hal yang sangat mencolok serta menarik untuk dibahas, movement kreatif ini digagas oleh Aji Handoko Purbo yang merupakan Creative Director dari sepatu Compass. Kolaborasi antara Compass dan Fxxking Rabbits memang menjadi hype tersendiri bagi orang-orang dalam skena sneakers, tapi Aji menuturkan bahwa ingin membawa hype ini ke teman-teman yang ada di sekitarnya sehingga terciptalah kolaborasi lintas bidang ini. 

Teknik kreatif yang digunakan dalam Fxxking Cuisine ini adalah si movement itu sendiri, dimana memang sarat akan nilai-nilai dari kolaborasi antara Compass dengan Fxxking Rabbit. Contohnya penggunaan warna kuning yang sangat dominan, warna kuning ini sangat mentereng jika dibandingkan dengan kemasan standar dari Eatlah, Dua Coffee, Byurger, dan Pizza Place yang cenderung menggunakan warna netral. Bahasa desain pada kemasan juga diganti menjadi sangat simple dan memiliki banyak white space, komposisi pada kemasan hanya terdapat tulisan merek berwarna hitam yang ditemani kelinci putih dengan latar kuning polos. Tidak lupa juga pada kemasan terdapat foto-foto karya Ryo Ishikawa yang memiliki genre dewasa dan memang merupakan ciri khas dari merek Fxxking Rabbits, beberapa hal diatas merupakan teknik kreatif yang dengan cepat di notice serta menyedot perhatian masyarakat.

Fxxking Rabbit merupakan merek asal Jepang dengan bahasa desain yang sangat berani serta memiliki aliran yang tergolong sebagai konsumsi dewasa, tentu saja hal tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan serta etika yang berkembang pada masyarakat Indonesia. Maka dari itu, movement Fxxking Cuisine ini memiliki value yang disesuaikan dengan masyarakat Indonesia, contohnya foto-foto karya Ryo Ishikawa yang terdapat pada kemasan makanan disensor dengan kalimat “tidak lulus sensor”, serta ada juga beberapa gambar yang disensor dengan cara di blur. Value-value dari Fxxking Rabbits tersebut yang coba direpresentasikan dengan menyesuaikan value masyarakat Indonesia, gambar-gambar dibawah ini merupakan contoh yang disensor demi kenyamanan bersama. 




Namun, ada gambar-gambar yang mungkin sebenarnya tidak perlu diburamkan. Contohnya adalah gambar pisang yang terdapat pada kemasan Tokyo Banana dari DuaCoffee. Tidak ada yang salah dalam foto buah pisang yang sudah setengah terkupas tersebut serta tidak memiliki korelasi sama sekali dengan dunia dewasa. Gambar buah pisang ini sengaja disensor dengan cara di blur sehingga gambar tersebut memiliki konotasi kearah hal-hal yang berbau dewasa tetapi hal ini kembali lagi kepada persepsi masing-masing individu untuk memaknainya, ada orang yang memaknainya sebagai sesuatu yang kotor, ada yang memahaminya sebagai buah pisang biasa, serta ada juga yang memahaminya sebagai value dari brand Fxxking Rabbits itu sendiri.

            Terciptanya movement yang sangat unik dan kreatif ini, pasti ada alasan-alasan tertentu dibalik semua ini. Jika dianalisis, tujuan dari trik marketing ini hanyalah sebagai pemantik atau pengingat bagi masyarakat yang pada akhirnya digunakan untuk meningkatkan awareness terhadap produk kolaborasi antara Compass dan Fxxking Rabbits karena di kemasan Fxxking Cuisine tidak terdapat apapun yang mencoba mempersuasi kita, hanya pure kemasan kuning polos dengan tulisan merek berwarna hitam yang ditemani kelinci putih, namun justru disitu point nya, desain kuning polos dengan tulisan hitam tadi sangat mencirikan produk kolaborasi ini, jadi dapat kita tarik kesimpulan bahwa movement ini hanya bertujuan untuk meningkatkan awareness terhadap produk saja tanpa memberikan informasi lain sama sekali.

 

KESIMPULAN

Bila memperhatikan perbedaan dari ketiga media yang digunakan untuk mengiklankan produk kolaborasi antara Compass x Fxxking Rabbits, iklan yang terdapat pada media lain seperti videotron serta gerbong dan stasiun MRT mencantumkan tanggal rilis produk “28 Nov 2020” dan tempat perilisan produk “Tokopedia”. Hal tersebut sangat memperlihatkan bahwa intensi dari iklan yang ada pada kedua media adalah upaya mempromosikan tanggal rilis dari produk Compass x Fxxking Rabbits, sedangkan pada movement Fxxking Cuisine hanya bertujuan sebagai pemantik ataupun pengingat bagi masyarakat yang berdampak pada meningkatnya awareness terhadap produk kolaborasi Compass x Fxxking Rabbits. Hal tersebut disebabkan karena pada kemasan Fxxking Cuisine ini tidak terdapat kata-kata yang mencoba mempersuasi maupun informasi tambahan lainnya seperti tanggal rilis “28 Nov 2020” dan tempat rilis “Tokopedia” yang terdapat pada iklan di media lainnya. Pure kemasan kuning polos dengan tulisan merek berwarna hitam yang ditemani kelinci putih.

Elemen masker adalah ciri khas dari konten pada media stasiun dan gerbong MRT Jakarta. Hal ini menjadi pembeda dengan media lainnya. Kita hanya menemui elemen masker pada konten iklan Compas x Fxxking Rabbits pada MRT Jakarta. Iklan pada media tersebut bukan hanya untuk mempromosikan namun, mengandung pesan tersirat untuk selalu menggunakan masker terutama pada tempat umum mengingat kondisi pandemi Covid-19.

 

 

 

 

 

Referensi

Fenton, N. (2009). Journalism and Democracy in the Digital Age. In New Media, Old News.

Gunawan, E. B., & Junaidi, A. (2020). Representasi Pendidikan Seks dalam Film Dua Garis Biru (Analisis Semiotika Roland Barthes). Koneksi, 4(1), 155. https://doi.org/10.24912/kn.v4i1.6880

Monica, M., & Luzar, L. C. (2011). Efek Warna dalam Dunia Desain dan Periklanan. Humaniora, 2(2), 1084. https://doi.org/10.21512/humaniora.v2i2.3158

https://hbx.com/men/brands/fr2

https://aqualux.id/mengenal-sejarah-dan-produk-pabrik-sepatu-compass.html

Komentar