Seorang gadis cantik nan memiliki suara merdu bernama Melisha Patricia Sidabutar yang merupakan kontestan Indonesian Idol meninggal dunia pada tanggal 08 Desember 2020 di usianya yang masih muda, yakni 19 tahun. Kabar meninggalnya Melisha Sidabutar cukup mengejutkan dunia permusikan tanah air. Melisha yang diketahui sebagai salah satu kontestan Indonesian Idol meninggal dunia setelah 2-3 hari merasakan sakit yang menyerang jantungnya. Ia dikabarkan mulai merasakan sakit setelah 2 minggu tereliminasi dari Indonesian Idol di babak 35 besar. Tentunya, kabar duka yang tiba-tiba menimpa seorang kontestan ajang pencarian bakat ternama di Indonesia membuat publik penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dari kronologi meninggalnya Melisha Sidabutar.
Tak habis-habis berbagai macam media
menjadikan fenomena ini sebagai perbincangan hangat yang harus dipublikasi. Dalam
artikel kali ini, media yang digunakan untuk menganalisis pesan media yaitu
media online artikel (IDN Times),
berita di Televisi (Insert), serta media sosial (Instagram). Meninggalnya
Melisha tentu membawa berbagai macam cerita, dari usianya yang sangat muda,
kisah perjuangan dengan kembarannya, serta perjalanannya dalam berkompetisi di
ajang pencarian bakat ‘Indonesian Idol’.
Media massa konvensional mengangkat
judul berita “Pesan Menyentuh Kembaran Melisha Sidabutar” (Elfira,
2020)
Media massa online mengangkat judul
berita “Meninggal Dunia, Ini Momen Melisha Sidabutar Audisi Indonesian Idol” (Madia,
2020)
Media sosial menyoroti unggahan akun
@fmartheo. (Martheo, 2020)
Menggunakan teknik analisis literasi media dengan 5 core
concept dan 5 key question (Center for Media Literacy, 2005), penulis akan mengupas tuntas
perbedaan perspektif media dan bagaimana penyampaian yang berbeda itu memiliki
tujuan yang berbeda.
#1 – Melisha Sidabutar Menjadi
Sorotan Media
Kabar yang mengejutkan dunia
industri musik tanah air pun menjadi sorotan berbagai media untuk dijadikan
topik pembicaraan. Berbagai macam jenis media menjadikan fenomena ini sebagai
topik pembahasan tentunya untuk memenuhi keinginan masyarakat yang ingin mengetahui
terkait apa yang sebenarnya terjadi kepada Melisha, hal ini tentu merupakan
salah satu pembuktian dari ilustrasi Teori Uses and Gratification. Media
menyajikan pesan yang dapat memuaskan rasa keingintahuan khalayak terkait
fenomena yang sedang terjadi (Suparmo, 2017).
Kabar yang sedang hangat-hangatnya
ini tentu dapat memberikan keuntungan tersendiri untuk sang pemilik media.
Namun, fenomena ini dibentuk bukan hanya untuk memenuhi keinginan khalayak
saja, namun mencakup berbagai macam hal. Melalui 3 media yang berbeda, terlihat
perbedaan dalam menyoroti sosok ”Melisha” dalam pembentukan informasi yang akan
disajikan kepada publik. Media yang
digunakan untuk melihat perbedaan dalam pembentukan pesan adalah media sosial
berupa Instagram, media daring berupa artikel, serta media massa seperti
Televisi.
Dalam mengonstruksi pesan, acara
‘Insert’ yang ditayangkan oleh saluran TransTV melalui media Televisi
mengangkat headline berita yang
berjudul “Pesan Menyentuh Kembaran Melisha Sidabutar” ini membentuk berita
dengan menyoroti kehidupan Melisha dengan kembarannya. Kehidupan seorang anak
yang dilahirkan kembar tentu bukan hal yang sering terjadi di setiap keluarga.
Melisha, kembaran dari Melitha terlihat sangat terpuruk dengan kepergian
Melisha.
Dalam hal ini, media membentuk kisah
haru dari saudari kembar ini sebagai pesan untuk menyentuh perasaan khalayak.
Melitha yang merupakan saudari kembar Melisha harus ditinggalkan terlebih
dahulu oleh Melisha yang biasanya menjadi sosok seorang Kakak untuk diajak
menghabiskan waktu bersama. Selain itu, keberhasilan Melisha dalam kompetisi
ajang pencarian bakat Indonesian Idol ia persembahkan untuk saudari kembarnya,
yaitu Melitha. Dari pesan yang dikonstruksi oleh pemilik media Televisi ini
memenuhi keingintahuan masyarakat terkait berita mengenai Melisha dan kisah
menyentuh yang diberikan oleh Melitha untuk Melisha.
Beda media, beda berita. Tentu
setiap author media memiliki
referensinya masing-masing dalam membentuk suatu pesan yang akan disajikan
kepada khalayak. Artikel berjudul “Meninggal Dunia, Ini Momen Melisha Sidabutar
Audisi Indonesian Idol” yang dipublikasi oleh IDN Times membentuk isi pesan
yang berbeda dengan acara “Insert” di Televisi. Artikel ini membentuk cerita
tentang perjuangan Melisha yang sedang mengejar cita-cita melalui ajang
pencarian bakat Indonesian Idol.
Pembentukan pesan yang dilakukan
oleh artikel IDN Times adalah untuk melihat kembali terkait perjalanan Melisha
dalam berkompetisi di Indonesian Idol. Pesan yang disampaikan oleh artikel IDN
Times sebagai bentuk dari media yang memperkenalkan siapa sebenarnya Melisha
yang sedang menjadi sorotan media. Dalam media ini, pesan dibentuk untuk
membahas isu yang terjadi agar mendapat atensi dari khalayak, lalu untuk
mengenalkan sosok Melisha serta menceritakan perjuangan Melisha dan Melitha
dalam audisi Indonesian Idol.
Media sosial merupakan media yang
menemani hampir semua aktivitas khalayak. Pesan yang dibangun dalam media
sosial pun tidak selalu terstruktur seperti pesan yang disajikan dalam televisi
maupun artikel. Melalui aplikasi media sosial yang bernama Instagram, banyak
ditemukan pesan-pesan yang mengabarkan berita terkait meninggalnya Melisha
Sidabutar.
Akun Instagram milik seorang teman
Melisha yang bernama @fmartheo milik
Eugenia Felicia Martheo juga memberikan pesan terkait fenomena meninggalnya
Melisha Sidabutar. Dalam Instagramnya, ia mempublikasi fotonya dengan Melisha
dan 9 teman-temannya dan menulis caption yang
dapat menyentuh hati. Euginia membentuk pesan yang berisikan tentang kisah
persahabatan mereka, karakter seorang Melisha, serta rasa sedih yang dialaminya
ketika mengetahui bahwa Melisha telah meninggal dunia.
Dalam media ini, pesan yang disampaikan dikonstruksi untuk memberi tahu bahwa kisah persahabatan mereka mengalami duka karena tak disangka bahwa salah satu anggota dalam persahabatan tersebut telah meninggal dunia. Selain itu, pesan tersebut juga menyampaikan bagaimana sosok Melisha berdasarkan sudut pandang Euginia dan impian-impian Melisha. Hal ini dikonstruksi untuk memperkenalkan Melisha lebih dalam lagi. Luapan rasa kesedihan yang dirasakan oleh Euginia dalam menyampaikan rasa sayang terhadap Melisha pun menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi ter konstruksinya pesan tersebut.
#2 – Kepergian Melisha Menggiring Kesedihan Bagi Publik
Peristiwa
yang dialami oleh Melisha Sidabutar merupakan fenomena yang sangat langka untuk
ditemukan dalam kehidupan masyarakat umum. Melihat usia Melisha yang masih
tergolong remaja, memiliki saudari kembar, serta merupakan salah satu kontestan
dari acara “Indonesian Idol” sehingga
dia juga memiliki banyak penggemar dan pendukung, namun secara tiba-tiba
dikabarkan meninggal dunia pastinya memikat para khalayak untuk menggali
informasi terkait latar belakang kehidupan Melisha. Terlebih lagi bagi para
penggemar atau pendukungnya dari acara “Indonesian
Idol” pasti sangat kaget dan sedih ketika mengetahui idola mereka telah
menutup usia di umurnya yang masih sangat muda. Dengan dukungan para khalayak
yang memiliki rasa keingintahuan akan kebenaran atau informasi tentang
kehidupan Melisha, media dapat lebih mudah membentuk strategi pesan dalam
mempersuasi atau menarik perhatian publiknya. Namun, setiap media memiliki
strategi atau cara pengemasan berita yang berbeda-beda sehingga dapat memikat
perhatian publik dengan caranya masing-masing. Melihat dari 3 sumber media yang
berbeda yakni Televisi, Artikel dan Instagram,
ketiganya memaparkan 1 fenomena yang serupa yakni kepergian Melisha Sidabutar
dengan kemasan yang berbeda-beda, baik dari isi berita hingga penggunaan
bahasanya.
Dari
media Televisi yakni lebih tepatnya acara “Insert”,
lebih memperlihatkan perasaan sedih dari saudari kembarnya Melisha, yakni
Melitha. Media ini lebih memfokuskan kisah haru yang terjadi pada Melitha
karena telah ditinggal pergi oleh satu-satunya saudari kembar yang ia miliki.
Hal ini pun dapat menyentuh emosi masyarakat dengan mudah karena memosisikan
Melitha sebagai seseorang yang sedang dilanda suatu fenomena pilu yang jarang
sekali terjadi. Kemudian, media ini juga menggunakan headline berita “Pesan Menyentuh Kembaran Melisha Sidabutar” yang
pastinya membuat khalayak bertanya-tanya terkait pesan menyentuh tersebut,
sehingga khalayak menjadi penasaran dan tertarik untuk menonton acara Televisi
tersebut.
Berbeda
dengan Televisi, media Artikel dari “IDN
Times” lebih menunjukkan headline
beritanya yang sedikit hiperbolik, yakni mencantumkan tulisan “Meninggal Dunia”
dan berhasil menggaet perhatian publik kepada kenangan mendiang Melisha selama audisi
di “Indonesian Idol”. Tentu juga
tidak terlepas dari eksistensi fenomena audisi yang menegangkan sehingga dapat
lebih memikat perhatian publik. Emosi yang diciptakan dalam Artikel ini
diperkuat dengan sajian rangkaian sub-judul yang seakan-akan membawa khalayak
ke dalam perjalanan kenangan bersama mendiang Melisha, sehingga publik turut
merasa berduka atas kepergian Melisha.
Sedangkan untuk Instagram melalui akun milik Felicia selaku teman dari Melisha, lebih memperlihatkan keinginannya untuk mengenang dan mengucapkan selamat tinggal atas kepergian Melisha. Felicia mengonstruksi pesan ini dengan emosi yang kuat, bahkan dapat menyentuh hati para pembacanya karena menggunakan narasi seperti “Ingin mengantar Melisha dalam mengejar cita-citanya, namun tak disangka harus diantar ke rumah Tuhan”. Hal tersebut dapat membuat khalayak ikut merasa berduka atas kehilangan Melisha dalam kehidupan Felicia, serta atas kematian Melisha sendiri. Sehingga Felicia berhasil menggiring emosi publik untuk turut berduka dan mengenang kepergian Melisha.
#3 – Persepsi Khalayak Terhadap
Berita Meninggalnya Melisha
Setiap orang pastinya mengalami atau
menerima suatu pesan media dengan cara yang berbeda-beda. Dikarenakan
pengalaman setiap orang dalam menghadapi suatu pesan media juga pasti berbeda (Goodman,
2014). Hal ini menunjukkan bahwa setiap
orang memiliki pemahaman masing-masing terhadap suatu pesan media, serta tidak
semua orang memahami suatu pesan media dengan pemikiran yang sama. Hal ini juga
berlaku dalam memandang berita terkait kepergian Melisha. Tentunya khalayak
akan memiliki persepsinya masing-masing dalam menerima maupun merasakan hal-hal
yang berhubungan dengan jalan ceritanya kepergian Melisha. Tak hanya itu,
ketiga media yang menyajikan berita terkait kepergian Melisha juga menghasilkan
persepsi atau pengalaman, serta hubungan yang berbeda bagi pembacanya.
Berdasarkan media Televisi yakni
acara “Insert”, kisah kepergian
Melisha merupakan kisah yang langka di mana seorang penyanyi pencarian bakat
yang sedang naik daun tiba-tiba dikabarkan meninggal di usianya yang tergolong
muda, bahkan memiliki saudari kembar. Para khalayak yang mungkin tidak memiliki
pengalaman yang sama belum tentu merasa tersentuh, namun bagi khalayak yang
juga bersaudara mungkin dapat membayangkan perasaan yang sama sehingga
tersentuh dan turut berduka. Terdapat perbedaan persepsi atau pengalaman
khalayak terhadap peristiwa kepergian Melisha, sehingga tidak semua orang dapat
merasakan hal atau kesedihan yang sama seperti Melitha.
Namun untuk media Artikel dari “IDN Times”, ambiguitas terasa ketika
mereka mengangkat isu ini dan mengaitkannya dengan kenangan Melisha sebagai
kontestan “Indonesian Idol”.
Kemungkinannya terdapat beberapa tanggapan atau persepsi yang berbeda, yakni
berupa respons positif dan negatif. Positifnya yakni sudah jelas ketika para
pembacanya menanggapi berita ini dengan turut merasakan kesedihan karena
kehilangan sosok Melisha yang menurut mereka sangat berbakat. Lalu, apabila
khalayak menyikapinya dengan pandangan negatif, kemungkinan akan muncul
pemikiran tentang mengapa ketika Melisha sudah wafat perjalanan audisinya baru
diekspos atau ditampilkan oleh media. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi
khalayak yang positif akan turut serta berduka atas kepergian Melisha, sedangkan
jika negatif maka khalayak akan memandang media itu buruk karena hanya mencari
keuntungan semata.
Kemudian untuk media Instagram milik Felicia, lebih memperlihatkan dirinya yang sangat merasa sedih atas kepergian sahabat tercintanya yaitu Melisha, namun belum tentu semua orang merasakan hal yang sama seperti Felicia. Kemungkinan terdapat khalayak yang memiliki persepsi bahwa dirinya tidak mengenal Melisha secara dekat sehingga tidak perlu merasa sedih yang berlebihan, atau berpikir bahwa setiap manusia akan meninggalkan dunia pada waktunya karena umur manusia hanya diatur oleh Tuhan dan lain sebagainya. Namun, kenyataannya Felicia mendapatkan banyak komentar atau tanggapan dari khalayak yang ikut serta merasakan duka atas kepergian Melisha. Hal ini menunjukkan bahwa pesan Felicia telah berhasil memengaruhi perasaan para khalayak yang menjadi ikut berduka atas kepergian Melisha, sehingga mereka merespons pada unggahan atau berita tersebut untuk menyatakan bahwa mereka juga peduli, bahkan turut merasakan duka atas perginya Melisha.
#4 – Melisha, Satu Persona Berjuta
Kenangan
Kabar duka atas wafatnya Melisha
Sidabutar mengundang kesedihan yang amat dalam. Terlebih bagi keluarga,
sahabat, dan orang-orang terkasih yang ditinggalkan. Tidak sebatas keluarga
saja, bahkan para penonton dan segenap tim Indonesian Idol pun turut berduka
atas meninggalnya kontestan yang mereka cintai. Kabar duka ini mencetak angka
kehilangan pekerja industri hiburan kembali naik. Tahun 2020 ini, dikabarkan
beberapa musisi terkenal meninggal dunia. Seperti Alm. Glenn Fredly pada April
2020 lalu, dan juga Alm. Didi Kempot pada Mei 2020 lalu.
Seiring perkembangan zaman, media
turut berkembang secara pesat. Mengikuti alur teknologi yang melesat jauh
sehingga membutuhkan berbagai adaptasi. Bersamaan pula dengan perkembangan
dunia berita. Dimana dunia yang biasa disebut dengan jurnalisme ini patut pula
mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Dituntut menyesuaikan pula dengan
perkembangan-perkembangan yang ada.
Dunia kini terbagi menjadi dunia
nyata dan dunia maya. Dimana dunia maya tersebut merupakan dunia virtual yang
dibuat oleh para pengembang teknologi yang mengharuskan seluruh aspek untuk
turut menyesuaikan dengan inovasi-inovasi tersebut. Termasuk pula era
jurnalisme online, menurut (lintang muliawati) era digitalisasi merupakan
ancaman yang secara beriringan pun menjadi kemudahan bagi para jurnalis.
Keterampilan, kreatifitas, dan inovasi dituntut untuk menjadi kepribadian baru
jurnalisme online. Jurnalis sendiri dituntut untuk berpikir kreatif dalam
membuat berita dan menuliskannya melalui multiplatform.
Tidak hanya itu, pemikiran berdasarkan apa yang menjadi tren atau dalam hal ini
disebut kondisi pembaca dunia maya terkini perlu diikuti oleh para jurnalis.
Sehingga tulisan-tulisannya mampu bersaing di era digitalisasi berita.
Berkaitan dengan perkembangan
digitalisasi jurnalisme ini, media di berbagai platform mulai mengeluarkan
pandangannya sendiri. Termasuk pemberitaan mengenai meninggalnya musisi tanah
air Melisha Sidabutar, kontestan Indonesian Idol 2020 ini menjadi sorotan
hangat media di berbagai platform. Kontennya pun berbeda; seperti yang sudah
disinggung pada bagian sebelumnya. Berbagai keberpihakan media tersorot dalam
sajian berita, yang membuat sudut pandang berita itu berpotensi dalam
menggiring opini pembacanya sehingga harus untuk berperilaku sesuai dengan apa
yang media katakan. (perloff)
Media pertama yaitu media massa
konvensional memuat pemberitaan wafatnya Melisha Sidabutar. Melisha dipaparkan
di acara Informasi Selebriti (Insert), program dari saluran Trans TV, merupakan
sosok yang sedang meniti cita-citanya untuk menjadi musisi melalui ajang
pencarian bakat Indonesian Idol 2020. Ketika penonton melihat pemberitaan
tersebut, kemungkinan mempertanyakan, kira-kira kenapa kabar meninggal Melisha
Sidabutar ini disorot media hingga menjadi viral setelah viralnya Melisha yang
memberikan Golden Ticket-nya kepada Melitha dahulu, kembarannya di ajang
pencarian bakat tersebut.
Sama halnya dengan kedua media lain,
yang turut mengangkat konten duka dan kehilangan. Pada media artikel, dimana
dunia jurnalisme online menggeluti bidangnya terdapat sisi lain yang
ditampilkan. Jika televisi tadi lebih mengusung pada pengenalan sosok yang
diberitakan dan siapa saja yang merasa kehilangan dengan menyajikan konten duka
yang amat dalam bagi yang ditinggalkan, berbeda dengan artikel yang justru
mengajak pembaca agar sama-sama mengenang mendiang Melisha Sidabutar dengan
sajian berita ala-ala kilas balik saat dirinya berjuang di ajang pencarian
bakat Indonesian Idol.
Konten artikel ini lebih menonjolkan
unsur sedih dan kehilangan. Media IDNTimes berusaha membuat para pembacanya
sedih dan merasa kehilangan sosok berbakat seperti mendiang Melisha. Hal ini
menjadi ‘main idea’ bagi jurnalis.
Sebab sudut pandang yang diciptakan oleh konten artikelnya lebih condong ke
arah perjalanan masa lalu Melisha Sidabutar. Menggiring pembaca untuk turut
berduka cita bersama IDNTimes. Pun dari media artikel dapat kita simpulkan
bahwa media hanya mengangkat apa yang dibutuhkan khalayak dimana diangkat dalam
teori Uses & Gratification oleh
Elihu Katz (1973) (Potter,
2016).
Lain halnya dengan media sosial
Instagram, yang lebih menyoroti user dan
tren dari jumlah engagement pada
postingannya. Postingan dari akun @fmartheo yang mengusung tentang rasa
kehilangan pemilik akun yang merupakan sahabat dari mendiang Melisha Sidabutar
ini merajai fitur explore selama
beberapa hari. Algoritma dari pengembang aplikasi sosial media menggunakan
‘bumbu dapur rahasia’ sehingga apa yang diminati oleh penggunanya sampai kepada
pengguna tanpa perlu pengguna susah payah mencari. Teori ini dinamakan bubble effect theory, dimana efek
daripada aktivitas pengguna media sosial yang aktif berselancar di sana akan
memecahkan satu balon yang juga memecahkan balon lainnya (Hidayah,
2019). Algoritma yang membuat akun
@fmartheo ini merajai fitur explore di
Instagram selama beberapa hari. Terlebih bagi penonton setia ajang pencari
bakat Indonesian Idol ini. Konten dari akun Felicia ini, memuat Transportation Theory yang dikemukakan
oleh Green (2008) (Potter,
2016). Dimana media yang diunggah oleh
akun Felicia itu membawa perasaan khalayaknya untuk berperasaan yang sama
dengan dirinya. Konten yang disajikan oleh Felicia pada unggahan tersebut
menggambarkan seseorang yang merasa sedih karena kehilangan dan merindukan
sahabat terbaiknya untuk selamanya. Dalam pesan tersebut, sebenarnya Felicia
tidak ingin terlihat merasa sedih, justru dia ingin terlihat bangkit dan tidak
menyerah. Hal ini dia lakukan untuk menutupi kesedihannya atas kepergian
sahabat tercintanya, supaya para pembaca maupun dirinya sendiri dapat tetap
teguh menerima kepergian Melisha. Namun, dikarenakan fenomena seperti ini
sangat langka dan jarang ditemukan, para khalayak pun memandang Felicia sebagai
sahabat yang baik bagi Melisha, sehingga mereka turut merasa berduka dan ingin
menguatkan hati Felicia yang sebenarnya masih berduka atas kehilangan Melisha.
Perbedaan sajian berita dari ketiga media ini cukup signifikan. Ketika TV berusaha mengangkat berita penyebab dari kematian mendiang Melisha Sidabutar, artikel dan media sosial justru membuat pembaca yang bisa saja juga merupakan penggemar dari mendiang Melisha Sidabutar mengenangnya. Tidak hanya itu, perbedaan yang cukup signifikan juga tampak pada unggahan Felicia dimana ia tidak menginginkan yang ditinggalkan merasa sedih. Kontennya membawa harapan bagi yang ditinggalkan agar terus menjalani hidup sehingga membuat mendiang Melisha merasa bahagia di atas sana.
#5 – Mengungkap Duka Yang Tersirat
Setiap media pasti memiliki
keberpihakan. Keberpihakan ini merupakan bias
daripada media itu sendiri. Bentuk bias-nya
pun bermacam-macam. Mulai dari bias informasi,
bias identitas, dan bias yang lainnya dan memungkinkan bagi
penikmat medianya misinterpretasi terhadap berita ataupun informasi yang
dibawakan. Terdapat teori yang mengemukakan bahwa media mampu menjadi kekuatan
bagi pemiliknya atau bisa disebut hegemoni media.
Hegemoni media menurut (Juditha,
2018) adalah keahlian dalam membuat cara
berpikir atau gagasan yang mendominasi. Dimana kemampuan ini seperti yang sudah
disinggung pada bagian sebelumnya, mampu mengatur pola pikir khalayak. Hegemoni
media memiliki 3 pola, terlebih dalam media massa. Yakni kepemilikan negara,
publik, dan pribadi. Insert, IDNTimes, maupun akun media sosial Instagram
pribadi milik Felicia (@fmartheo) memiliki pola kepemilikan yang berbeda-beda.
Begitu pula dengan sajian berita yang juga berbeda tergantung dimiliki oleh
siapa medianya.
Insert memiliki kepemilikan dari
Trans Corp. dimana Trans Corp. ini merupakan pesaing bagi MNC Group. Ajang
pencarian bakat yang ditekuni Melisha dan kembaran yang menjadi sorotan media
ini merupakan program televisi milik MNCTV yang berada di bawah kepemilikan MNC
Group. Sehingga dalam kemasan beritanya, jarang sekali insert menyinggung
‘Indonesian Idol’ secara eksplisit. Namun lebih berfokus pada kronologis
kematian Melisha yang dinyatakan terkena pembengkakkan jantung akibat kelelahan
dalam mempersiapkan babak eliminasi 35 besar. Nyatanya, kabar ini ditentang
oleh sang Ayah dari Melisha yang berargumen bahwa beliau belum koordinasi
bersama narasumber Insert--Paman dan Tante dari Melisha--terkait fakta
tersebut.
Insert mengemas berita tersebut agar
diketahui khalayak bahwa ajang pencarian bakat tersebut menyebabkan
kontestannya hingga meninggal dunia. Sehingga khalayak berpandangan skeptis
terhadap ajang pencarian bakat tersebut maupun kepada medianya, sehingga mampu
mendatangkan keuntungan pribadi bagi Trans TV itu sendiri.
Perbedaannya dengan media artikel
pada portal web online adalah IDN
Times lebih netral dalam keberpihakan, namun terdapat makna economic perspective yang tersirat dalam
kemasan beritanya. Memang benar, jurnalis IDN Times membawa khalayaknya untuk
sama-sama mengenang mendiang Melisha ketika memperjuangkan mimpinya demi
menjadi seorang musisi. Namun terselip fakta bahwa mereka pun menayangkannya
berdasarkan keuntungan yang akan mereka raih jika mereka membahas topik yang
sedang hangat dibicarakan ini. Sehingga media memberitakan isu hangat tidak
lain tujuannya untuk meraih kekuatan dan keuntungan dari para pembaca. Jurnalis
mengangkat isu ini dengan menambahkan unsur kehidupan pribadi Melisha dan
Melitha (kembarannya) agar menarik pembaca untuk meyakinkan bahwa IDN Times
merupakan media ter-update dengan
informasi yang cukup mulai dari terkecil hingga terbesar.
Lain hal-nya dengan kedua media
massa tersebut, media sosial justru lebih terkendali hegemoninya. Mereka memang
menginfluens, akan tetapi tidak menguntungkan satu pihak ataupun pihak lainnya.
Melainkan kuat dalam arti saling menguatkan antar khalayak dengan pemilik akun
(Felicia) untuk sama-sama ikhlas dan merelakan mendiang Melisha agar bahagia di
sisi-Nya.
Menarik jika ditarik benang merah antar ketiga berita dari 3 media yang berbeda ini. Sesuai dengan judul bagian ini, kabar duka tersirat di masing-masing media memang serupa. Namun dikemas dengan cara yang berbeda. Sebab kepemilikan dari media itu sendiri juga masih sangat kuat orientasi terhadap profit dan powernya. Sehingga tidak salah jika terdapat teori yang menyatakan bahwa media itu sangat bias. Menurut Marshall McLuhan, “the medium is the message” (McLuhan, 1994). Bentuk penyampaian pesan juga memiliki tingkat kepentingan yang sama dengan isi pesan. Maka kedua aspek itu saling berhubungan ketika kegiatan komunikasi itu berlangsung.
Kabar hangat tentang meninggalnya
Melisha Sidabutar yang disorot oleh berbagai jenis media ini sejatinya memiliki
pesan yang berbeda-beda. Tergantung pada beberapa aspek yang disebut kemampuan
dalam literasi media. Penyampaian berita dalam tiap media sejatinya memiliki
perspektif yang berbeda sesuai dengan pandangan jurnalis yang mewarnai
beritanya. Media review ini membahas
beberapa hal terkait core concept dan
key question (Center for Media
Literacy, 2005).
Dalam pembentukan pesan yang
diberikan baik dari media televisi, artikel, maupun Instagram adalah untuk
memuaskan keingintahuan khalayak terkait kasus meninggalnya Melisha Sidabutar.
Namun, ada beberapa perbedaan yang tidak terlalu signifikan dalam pembentukan
pesan tersebut. Seperti dalam Televisi dan Instagram yang membahas mengenai
sosok karakter Melisha di mata keluarga
dan sahabatnya, sedangkan dalam artikel IDN Times pesan yang dibentuk lebih
diperuntukkan untuk memperkenalkan terkait siapa sebenarnya Melisha Sidabutar
yang sedang menjadi pembicaraan hangat baik dalam dunia nyata maupun dunia
maya.
Ketiga
media tersebut juga mengonstruksi pesan media dengan bahasa dan aturannya
masing-masing. Seperti media Televisi yang cenderung memperlihatkan kesedihan
Melitha karena kepergian Melisha, sehingga mempersuasi khalayak untuk menonton
acara Televisi tersebut dengan menonjolkan perasaan duka. Berbeda dengan
Televisi, media Artikel lebih memanfaatkan penggunaan bahasa yang sedikit
hiperbolik pada judulnya, sehingga dengan mudah membawa perhatian publik kepada
kenangan mendiang Melisha selama audisi di “Indonesian
Idol”. Sedangkan media Instagram,
penulis cenderung menggunakan cerita atau narasi terkait pengalamannya saat
bersama Melisha, sehingga khalayak dapat terjun merasakan emosi yang diberikan
dalam narasi tersebut.
Kemudian,
setiap orang tentu menerima suatu pesan media dengan caranya masing-masing. Ketiga
media tersebut pun memiliki pesan media yang berbeda sehingga khalayak menerima
pesan medianya dengan persepsi yang berbeda. Dalam media Televisi, terdapat
perbedaan persepsi atau pengalaman khalayak terhadap peristiwa kepergian
Melisha, sehingga tidak semua orang dapat merasakan hal atau kesedihan yang
sama seperti Melitha. Kemudian untuk media Artikel, lebih menunjukkan bahwa
persepsi khalayak yang positif akan turut serta berduka atas kepergian Melisha,
sedangkan jika negatif maka khalayak akan memandang media itu buruk karena
hanya mencari keuntungan semata. Untuk media Instagram, lebih menunjukkan bahwa pesan Felicia telah berhasil
memengaruhi perasaan khalayak yang ikut berduka atas kepergian Melisha,
sehingga mereka merespons pada unggahan atau berita tersebut untuk menyatakan
bahwa mereka juga peduli dengan Melisha.
Seperti yang sudah disinggung
sebelumnya, konten yang disajikan oleh tiap-tiap media sejatinya memiliki
perbedaan perspektif. Dalam hal ini, tampak jelas sekali ketika kepemilikan
individu memiliki ‘konten’ yang berbeda. Tergantung pada tujuan mereka
masing-masing. Media massa konvensional televisi cenderung mengangkat konten
dengan menguak opini yang belum diketahui kebenarannya sehingga menyudutkan
pihak tertentu. Sementara artikel online memiliki konten yang disajikan
berdasarkan kebutuhan mereka. Kepemilikan media sosial cenderung mengangkat
perasaan pribadi sehingga keuntungan yang ia dapatkan adalah rasa saling
menguatkan.
Penting bagi penikmat media untuk meliterasi media. Alasan-alasan yang penulis paparkan dalam artikel ini semoga bermanfaat bagi pembaca. Penulis berharap semoga penikmat media di Indonesia memiliki kemampuan ini agar cara berpikir penikmat media tidak dikonstruksi oleh media itu sendiri. (Thalia, Matthew, Nurul)
Referensi
Center for Media Literacy. (2005). Five Key Questions of
Media Literacy. Center for Media Literacy, 6.
http://www.medialit.org/sites/default/files/14B_CCKQPoster+5essays.pdf
Elfira, Z. (2020). Pesan Menyentuh Kembaran Melisha
Sidabutar.
Goodman, S. (2014, June 10). Social Media Literacy: The 5
Key Concepts | Edutopia.
https://www.edutopia.org/blog/social-media-five-key-concepts-stacey-goodman
Hidayah, A. R. (2019). Persecution Act as Filter Bubble
Effect: Digital Society and The Shift of Public Sphere. Jurnal Ilmu Sosial
Dan Ilmu Politik, 22(2), 112. https://doi.org/10.22146/jsp.33244
Juditha, C. (2018). Social Media Hegemony: Gosip Instagram
Account @Lambe_turah - Hegemoni Media Sosial: Akun Gosip Instagram
@Lambe_turah. Jurnal Penelitian Komunikasi Dan Opini Publik, 22(1),
260982.
Madia, F. N. (2020, December 9). Momen Melisha Sidabutar
Audisi Indonesian Idol.
https://www.idntimes.com/hype/entertainment/fitria-nur-madia/si-kembar-sidabutar-peserta-indonesian-idol-c1c2/9
Martheo, E. F. (2020, December 9). 𝐄𝐮𝐠𝐞𝐧𝐢𝐚
𝐅𝐞𝐥𝐢𝐜𝐢𝐚 𝐌𝐚𝐫𝐭𝐡𝐞𝐨
di Instagram “hei, mel. lo pergi tiba-tiba banget, dan gua belom siapin apa-apa
buat nganter lo pergi. dulu gua selalu pengen nganter lu pergi ke….” https://www.instagram.com/p/CIkNlcoHz7R/
McLuhan, M. (1994). Understanding Media: The Extensions of
Man. In Neurology. MIT Press.
https://doi.org/10.1212/WNL.0b013e318205d55a
Potter, W. J. (2016). Media Literacy Eighth Edition. In Sage
Publications, Inc.




waahh edukatif sekalii
BalasHapus"Terima kasih karangan bunganya" - Mel's Fams
wkwk
turut berduka :(
BalasHapuswah keren banget
BalasHapus