Pengaruh Pembubaran FPI Yang Menutupi Kasus Korupsi

    Akhir-akhir ini, publik sedang dihebohkan oleh berita mengenai dibubarkannya Front Pembela Islam (FPI) oleh pemerintah. Tepat pada tanggal 30 Desember 2020, pemerintah resmi membubarkan FPI sesuai dengan keputusan bersama 6 menteri/kepala lembaga yaitu Menteri Dalam Negeri, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Komunikasi dan Informatika, Jaksa Agung, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terrorisme. “Menyatakan Front Pembela Islam adalah organisasi yang tidak terdaftar sebagai organisasi kemasyarakatan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan sehingga secara de jure telah bubar sebagai organisasi kemasyarakatan,” kata Wakil Menteri Hukum dan HAM Omar Sharief Hiariej dalam konferensi pers bersama di Kemenko Politik, Hukum dan Keamanan, Rabu (30/12). 
    Sontak, keputusan yang dibuat oleh pemerintah ini menuai berbagai macam reaksi publik. Ada yang menyetujui terkait dibubarkannya FPI, ada pula yang menyayangkan keputusan pemerintah. Pemimpin FPI yakni Rizieq Shihab telah meminta kepada para pengikutnya agar tetap kondusif dalam menyikapi pembubaran FPI ini. "Arahan beliau santai dan rileks saja, buat kendaraan atau perahu baru," kata Azis ketika dihubungi, Sabtu, 2 Januari 2021.
    Front Pembela Islam atau yang biasa disingkat FPI merupakan suatu organisasi masyarakat yang telah berdiri sejak tahun 1998 oleh Rizieq Shihab dengan didukung oleh tokoh militer dan politik pada saat itu. Pada awal terbentuknya, FPI merupakan suatu kelompok sipil yang memposisikan diri mereka sebagai suatu kekuatan dalam mengawas moral islam untuk melawan kemungkaran. Visi dari organisasi ini yaitu untuk menegakan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar dalam setiap aspek kehidupan. Pada tahun 2002, ketika mengadakan tablig akbar ulang tahun FPI yang juga dihadiri oleh mantan Menteri Agama, Said Agil Husin Al Munawar, FPI meminta agar syariat Islam dihadirkan dalam pasal 29 UUD 45 yang menyatakan, "Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa" dengan memberikan sedikit tambahan "kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" seperti yang telah ada dalam butir pertama dari Piagam Jakarta yang dirumuskan pada tanggal 22 Juni 1945 ke dalam amendemen UUD 1945 yang sedang di bahas di MPR sambil membawa spanduk bertuliskan "Syariat Islam atau Disintegrasi Bangsa". Namun, menurut anggota Dewan Penasihat Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Dr. J. Soedjati Djiwandono dengan memasukan tujuh kata Piagam Jakarta ke dalam UUD 1945 yang diamendemen dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan dalam kesatuan bangsa dan negara mengingat karekteristik bangsa yang sangat beragam. Pembentukan organisasi yang memperjuangkan syariat Islam dan bukan Pancasila inilah yang kemudian menjadi wacana pemerintah Indonesia agar membubarkan ormas Islam yang bermasalah pada tahun 2006. Analisis Pada Media Youtube 
1. Pesan Media di Konstruksi Secara Berulang 
     Peranan media digital dalam era globalisasi sangat berpengaruh terhadap persebaran informasi kepada khalayak umum. Setiap isu yang sedang terjadi di ranah umum pastinya akan cepat tersebar melalui media sosial seperti Youtube contohnya. Kasus mengenai pembubaran ormas FPI (Front Pembela Islam) menjadi perbincangan beberapa hari belakangan ini. Pasca kepulangan Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab ke Indonesia pada tanggal 10 November 2020, FPI terus menjadi sorotan publik hingga saat ini. Bermula dari acara pernikahan yang melanggar protokol kesehatan, lalu penembakan terhadap 6 anggota FPI, hingga dibubarkannya FPI sebagai ormas di Indonesia.
Pemberitaan mengenai FPI khususnya berita tentang pembubaran FPI kian menjadi hal yang lumrah di khalayak umum. Hal ini disebabkan oleh munculnya berita mengenai FPI secara terus menerus di ranah media sosial khususnya Youtube. Kemunculan pemberitaan ini secara terus menerus menarik perhatian publik dan menggiring publik untuk mengetahui tentang perkembangan kasus terkait FPI itu sendiri. Namun di sisi lain pemberitaan yang terus menerus muncul ini juga dianggap sebagai pengalihan isu bagi beberapa masyarakat. Beberapa masyarakat menganggap bahwa pemberitaan tersebut diangkat secara terus-menerus hingga menenggelamkan berbagai berita penting seperti kasus korupsi para pejabat pemerintahan contohnya.
2. Teknik Kreatif Untuk Menarik Atensi
    Berbagai macam hal unik dan kreatif dilakukan untuk menarik perhatian publik di media sosial agar khalayak mau untuk membaca/mendengarkan informasi yang disampaikan. Pada platform Youtube hal yang dilakukan untuk menarik minat penonton biasanya disebut dengan clickbait. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan gambar serta tulisan pada thumbnail Youtube yang akan membuat orang penasaran terhadap isi vidio tersebut.
    Seperti pada contoh gambar diatas yang memperlihatkan beberapa thumbnail Youtube yang dapat membuat rasa penasaran penonton terhadap isi dari vidio tersebut. Pada salah satu thumbnail vidio tersebut terdapat tulisan “RAS4IN..! FPI DIBUBARKAN, AHOK AKHIRNYA TUNJUKKAN HAL GILE INI” disertai gambar Ahok dan Habib Rizieq. Tentu hal ini akan menimbulkan rasa penasaran publik terhadap isi dari vidio tersebut yang sebenarnya hal tersebut hanyalah clickbait dengan isi vidio yang tidak terlalu berkorelasi dengan gambar tersebut.
3. Pandangan Yang Berbeda Tiap Audiens Terhadap Isi Konten
    Setiap orang tentu memiliki pandangan yang berbeda terhadap isi konten dari suatu pemberitaan. Pada pemberitaan mengenai pembubaran ormas FPI yang disampaikan oleh Menkopolhukam Mahfud M.D, berbagai kalimat dilontarkan oleh netizen sesuai dengan persepsi mereka terhadap isi pemberitaan tersebut.
    Sebagian masyarakat menganggap bahwa pembubaran FPI adalah kebijakan tepat yang diambil oleh pemerintah. Hal ini disebabkan karena FPI dianggap sebagai organisasi yang radikal dan selalu bertindak sesuai kehendaknya sendiri tanpa memperdulikan hukum yang berlaku/main hakim sendiri. Dengan timbulnya persepsi tersebut, maka banyak masyarakat yang mendukung pembubaran FPI dan mendukung pemerintah untuk memberantas organisasi yang dianggap mereka radikal. 
    Namun di sisi lain, beberapa masyarakat justru menyayangkan dan justru tidak lagi mempercayai pemerintah karena pemberitaan mengenai FPI. Hal ini disebabkan karena pemberitaan mengenai FPI tersebut seakan dikonstruksi untuk menutupi segala macam pemberitaan mengenai korupsi yang terjadi belakangan ini.
    Mahfud M.D sebagai Menkopolhukam yang menyampaikan informasi terkait pembubaran ormas FPI juga turut menjadi sorotan publik. Hal ini dikarenakan perkataan Mahfud M.D yang sangat berbeda saat sebelum dan sesudah menjabat sebagai Menkopolhukam. Sebelum menjabat beliau sering sekali mengkritik pemerintah dan mendukung berbagai gerakan masyarakat di Indonesia, namun saat sudah menjabat sebagai Menkopolhukan beliau justru terang-terangan menentang segala gerakan masyarakat yang dianggap menyerang pemerintah. Hal ini tentu menimbulkan rasa ketidakpercayaan publik terhadap perkataan yang dilontarkannya yang dinilai berubah dan tidak komitmen terhadap perkataannya.
4. Nilai dan Sudut Pandang Topik Pembubaran FPI
    Berbicara mengenai sudut pandang tentu pada masyarakat terdapat dua sudut pandang yang berbeda terkait berita pembubaran FPI. Jika dilihat dari sudut pandang masyarakat yang mendukung pembubaran FPI, pembubaran FPI ini adalah langkah yang tepat yang diambil oleh pemerintah demi menjaga ketentraman masyarakat Indonesia. Isu mengenai masalah toleransi di Indonesia juga tidak luput dari kata FPI, hal ini berkaitan dengan berbagai kasus mengenai toleransi yang seringkali melibatkan FPI didalamnya.
    Namun jika melihat dari sudut pandang pendukung FPI, pembubaran FPI ini adalah kesempatan yang diambil pemerintah untuk menutupi kebusukan pemerintahan Indonesia saat ini. Seperti misalnya banyak kasus korupsi yang tertutupi dikarenakan meledaknya pemberitaan mengenai FPI di masyarakat umu khususnya di media sosial. Hal ini sangat disayangkan mengingat pemerintah terlalu fokus kepada FPI dan seakan memang sengaja melakukan hal tersebut untuk menutupi kasus lainnya yang berhubungan dengan pemerintahan.
  Nilai yang dapat diambil dari kasus ini adalah bagaimanapuun keputusan yang diambil oleh pemerintah, suka atau tidak suka kita harus menerimanya dan berharap yang terbaik serta selalu berpikiran postif terhadap segala kebijakan pemerintahan. Cara terbaik adalah dengan berpikir positif terhadap pemerintah dan tidak saling menjatuhkan satu sama lain kepada masyarakat yang memiliki pandangan yang berbeda.
5. Mengapa Topik Ini Ramai Diperbincangkan di Youtube
    Topik ini menjadi perbincangan yang hangat di Indonesia karena pemberitaan mengenai FPI ini yang tidak ada habisnya dan selalu memunculkan kasus baru setiap saat. Di berbagai media sosial topik ini selalu menjadi sorotan netizen dan selalu memunculkan persepsi yang baru di mata masyarakat. Pemberitaan mengenai FPI ini seringkali menjadi trending topic di Youtube dan menjadi sorotan penonton di berbagai kalangan. Tentu hal tersebut merupakan hasil dari pemberitaan yang dilakukan secara terus menerus sampai menutupi berbagai pemberitaan yang lain.
  Hal ini menyebabkan masyarakat menjadi lebih fokus terhadap pemberitaan mengenai FPI dibandingkan pemberitaan yang lain dan menyebabkan pemberitaan FPI tersebut menyebar secara luas ke berbagai lingkup masyarakat umum. Pemberitaan mengenai FPI sendiri menjadi sorotan publik dikarenakan kasus-kasus yang melibatkan FPI setiap tahunnya membuat orang ingin mengetahui berita tentang FPI itu sendiri. Sangat disayangkan bila masyarakat terlalu fokus pada pemberitaan mengenai FPI jika sampai melupakan berbagai pemberitaan yang lebih penting seperti korupsi, skandal, dan lain sebagainya.
Analisis Pada Media Instagram
1. Pesan Media di Konstruksi Secara Berulang
    Pada era globalisasi saat ini, peran media digital sangat berperan penting dalam kehidupan manusia, berbagai macam kegiatan manusia hampir dilakukan seluruhnya dalam dunia digital, dari mulai berdagang, berbelanja, sarana hiburan, berinteraksi sosial, wadah informasi dan banyak lainnya. Berbicara mengenai informasi, dalam dunia digital manusia lebih dominan menggunakan sosial media dalam melakukan berbagai kegiatan khususnya mencari suatu informasi yang hangat, alasannya karena media sosial lebih cepat dalam mengangkat suatu isu yang terjadi.
    Seperti yang saat ini sedang marak diperbincangkan oleh hampir seluruh awak media yaitu mengenai kasus FPI (Front Pembela Islam) khusunya dalam media sosial Instagram, seperti pada contoh diatas bahwa belakangan ini media sedang gencar membicarakan FPI, sehingga berbagai macam media mengkontruksi pesan/informasi yang dimuat secara berulang. Hal tersebut bertujuan untuk menarik atensi para calon pembaca untuk dapat tertarik dan membaca apa yang dimuat dalam media tertentu, seperti misalnya yang di atas berbagai media memuat informasi mengenai pembubaran FPI namun setiap media tentunya mempunyai cara masing-masing dalam mengkontruksi isi pesannya, hal tersebut bertujuan supaya para pembaca tidak bosan dalam mengkonsumsi topik yang sama.
2. Teknik Kreatif Untuk Menarik Atensi
    Pada saat ini media mempunyai caranya masing-masing dalam menarik atensi para audiens/calon konsumen media, biasanya apabila media mengangkat suatu topik/isu tertentu dibutuhkan cara kreatif untuk memikat minat audiens, seperti contoh pada Instagram yang mengankat isu mengenai FPI, dalam postingan yang diunggah pada akun @tempodotco yang mengangkat isu mengenai kasus terbuduhnya 6 pengawal Habib Rizieq Syihab. Dalam postingan pada Instagram di atas terdapat judul yang ditulis dengan huruf capital berukuran besar, hal tersebut adalah salah satu cara kreatif tim design dalam berupaya menarik atensi, pada bagian judul ditulis “Aneka Kejanggalan Rekonstruksi KM 50” dan di bawah judul terdapat keterangan singkat, hal tersebut juga bertujuan agar para pembaca di Instagram dapat terpersuasi untuk mengakses berita selengkapnya di web Tempo, selain itu cara kreatif ditampilkan juga pada ilustrasi yang terdapat pada contoh di atas, pada cover berita tersebut terdapat sebuah ilustrasi yang menggambarkan rekonstruksi pada kejadian tersebut, ilustrasi gambar sangat berperan penting juga dalam memikat para pembaca, biasnya seperti dalam buku apabila cover sebuah buku ilustrasinya menarik, maka minat pembacapun akan berpeluang lebih besar, begitupun pada contoh yang tertera di atas.
3. Pengalaman Yang Berbeda Tiap Audiens Terhadap Isi Konten
    Belakangan ini media sedang gencar-gencarnya memberitakan isu mengenai pembubaran FPI, terutama pada media Instagram, sehingga hal tersebut menimbulkan pro dan kontra pada netizen. Akhir-akhir ini media memang sedang hangat membicarakan isu pembubaran FPI, dalam menanggapi isu tersebut netizen dibagi menjadi duakelompok/kubu, yang pertama yaitu mereka yang menyutujui FPI dibubarkan dan yang kedua mereka yang kurang setuju FPI dibubarkan. Berdasarkan hasil analisis, kelompok yang menyetujui FPI dibubarkan beralasan karena awal mula kedatangan HRS (Habib Rizieq Syihab) sebagai ketua umum FPI yang disambut secara meriah dan menimbulkan kerumunan besar yang mana hal tersebut sudah melanggar peraturan pemerintah di tengah pandemi.
    Namun seiring berjalannya waktu media secara terus menerus lebih menonjolkan kasus ini, dan membuat netizen merasa curiga hingga beranggapan kasus yang diangkat media secara terus menerus seakan-akan menutupi kasus-kasus besar lainnya seperti Pilkada dan Korupsi yang belakangan ini juga menjadi kasus besar di Indonesia. seperti pada postingan Instagram di atas, netizen beranggapan bahwa media seakan-akan menutupi kasus korupsi dengan mengangkat kasus/isu-isu FPI, sehingga banyak netizen yang akhirnya tidak setuju mengenai pembubaran FPI, yang netizen inginkan malah menindak para koruptor dengan tegas dan memberitakannya selayakna para awak media yang sering memberitakan kasus FPI.
4. Nilai dan Sudut Pandang Dari Topik Pembubaran FPI
    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, terdapat sudut pandang yang berbeda antara dua kelompok yang menanggapi isu pembubarannya FPI yaitu kelompok yang mendukung/setuju dan kelompok yang menolak/kurang setuju. Berdasarkan hasil analisis pada media Instagram antara dua kelompok tersebut sering beradu argumen bahkan tidak jarang salah satu dari kelompok netizen/warganet ada yang saling menjatuhkan dan bahkan saling melempar ujaran kebencian, sangat disayangkan hal itu terjadi pada saat ini. Dan yang paling menonjol pada fenomena ini yaitu warganet banyak yang berpendapat mengenai ketidak adilan pada media, warganet mengnggap adanya keberpihakan media terhadap pemerintah yang mana mereka merasa bahwa pembubaran FPI ini tidaklah fair dibandingkan pemberitaan kasus-kasus besar lainnya seperti korupsi dana pandemi misalnya.
5. Mengapa Topik Ini Ramai Diperbincangkan di Instagram
    Pada saat ini kasus pembubaran FPI memang banyak memicu pro dan kontra, khususnya pada media Instagram. Di Instagram terdapat akun-akun dari awak media mainstream yang megangkat isu mengenau FPI seperti @opiniid, @tempodotco, @officialinewstv. Dan rata-rata berdasarkan hasil analisis ketiga media tersebut ramai memperbincangkan/mengangkat isu yang berkaitan dengan FPI. Secara mekanisme media mengangkat dan mengkonstruksi suatu pesan media bertujuan untuk menginformasikan, namun selain dari pada itu media juga bertujuan untuk mencari material, dengan pesan yang dikonsturksi diharapkan dapat menarik atensi audiens, dan biasanya media memilih dan mengangkat isu yang sedang ramai dan sensitif untuk dibahas, seperti halnya isu yang berkaitan dengan FPI, seperti yang tadi telah disebutkan antara dua kelompok yang mendunkung dibubarkannya FPI dan yang menolak pembubarannya FPI, di media Instagram terdapat 84,9 ribu hastag #bubarkanfpi dan hal tersebut menjadi bukti bahwa pembubaran FPI adalah suatu hal yang hangat diperbincangkan dan secara otomatis media mainstream akan ikut memberitakan mengenai isu ini karena media tersebut menganggap apabila isu tersebut diangkat maka secara tidak langsung banyak warganet yang akan mengakses media tesebut.
Analisis Pada Media Twitter
1. Pesan Media di Konstruksi Secara Berulang
    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, setiap pesan yang telah disebarkan dan dibuat di media sosial telah dikonstruksi. Pada media Twitter, banyak sekali warga net yang bereaksi ketika pemerintah memutuskan untuk membubarkan FPI. Reaksi dari pengguna sosial media beragam, dari reaksi yang sangat senang hingga reaksi yang menolak dengan keras. Warga net yang senang mengatakan bahwa hal ini merupakan hal yang baik, mereka mendukung keputusan pemerintah untuk membubarkan FPI. Sementara itu, di sisi lain terdapat warga net yang menolak hal tersebut. Mereka bahkan membuat tagar #SayaPercayaFPI hingga menjadi trending topic beberapa waktu.
    Dari banyaknya tweet yang beredar dalam topik FPI dibubarkan, terdapat beberapa “kompok” yang membuat topik tersebut semakin panas ketika dibicarakan. Dari yang penulis lihat dan analisis, terdapat dua kompor atau yang sering disebut buzzer. Buzzer ini terdapat dalam kedua pihak, tugas mereka yaitu untuk membuat orang awam percaya dengan narasi yang mereka lemparkan di platform Twitter. Dari sisi buzzer pendukung FPI, mereka jelas sangat menolak keras terhadap keputusan pemerintah untuk membubarkan ormas kesayangan mereka ini. Merekapun memaparkan bahwa sebenarnya PDIP lah yang menjadi biang kerok dalam setiap kerusuhan yang terjadi di Indonesia. Bukan tanpa sebab, mereka menambahkan beberapa bukti seperti banyaknya kader dari PDI yang korupsi dan belum diadili sebagaimana mestinya, oleh karena itu, para buzzer inipun meminta agar PDIP dibubarkan. Di sisi lain, buzzer yang mendukung kebijakan ini semakin menggoreng dan memanaskan topik. Narasi-narasi yang mereka tulis sama seramnya. Dalam tulisannya tersebut mereka mengatakan bahwa FPI merupakan sarang dari terroris, mereka pun menyangkutkan FPI dengan HTI yang merupakan organisasi masyarakat yang lebih dulu dibubarkan. Para buzzer ini mengatakan bahwa FPI dan HTI belum bubar, mereka sedang bermain di bawah tanah. 
2. Teknik Kreatif Untuk Menarik Atensi
     Baik dari kubu yang mendukung maupun kubu yang menolak, mereka sama-sama menggunakan unggahan meme dalam melemparkan narasi agar para warganet awam tertarik dan percaya dengan pendapat mereka. Foto di atas merupakan meme yang dibuat oleh kudu yang mendukung pembubaran FPI, ia pun menambahkan keterangan “Mau berapa kali berganti namapun tetap gak berpengaruh, selama ormas ini bertentangan dgn kontitusi dan undang² negara tetap akan dibubarkan Tangan terkepal Cekal Kovid Berangus Neo FPI.” Tulis @RETHA_Monica dalam tweet tersebut.
   Tak hanya dari kubu yang mendukung untuk membubarkan FPI, kubu yang menolak pun mengunggah sebuah foto. Akun yang menunggah foto tersebut adalah @kondangtitis, ia berpendapat bahwa yang seharusnya dibubarkan yaitu kelompok yang korupsi. Dalam unggahannya pun, ia menambahkan “It is so UNFAIR. Mau Jadi apa negara ini?” tanya warganet tersebut tersebut dalam tweetnya.
3. Pandangan Yang Berbeda Tiap Audiens Terhadap Isi Konten
    Berita dibubarkannya FPI oleh pemerintah menjadi buah bibir di Twitter. Berbagai macam pendapat dan ujaran kebencian mewarnai topik tersebut. Terdapat dua kelompok besar yang sangat mendominasi pembahasan tersebut, kelompok tersebut yaitu pendukung FPI dan pendukung dibubarkannya FPI. Dua kelompok ini saling melempar argumen dan pandangannya masing-masing, bahkan tak sedikit yang mengunggah unggahan dengan narasi ujaran kebencian. Dari berbagai hal yang terunggah di media sosial twitter ini, penulis merasakan kesedihan dan kekesalan. Bukan tanpa sebab, karena banyak dari mereka yang memprovokasi hingga terjadinya debat kusir yang tidak berujung. Bukan hanya itu saja, banyak juga tuduhan-tuduhan dan ujaran kebencian yang turut hadir meramaikan topik tersebut. Dari banyaknya pesan negatif dan ujaran kebencian tersebut, mungkin bukan hanya penulis yang merasakan kesedihan dan kekesalan tersebut.
4. Nilai dan Sudut Pandang Topik Pembubaran FPI
    Dari sudut pandang penulis, yang merepresentasikan dari topik yang sedang hangat ini yaitu keadaan real aktifitas sosial media yang ada di Indonesia. Berita bohong, informasi negatif, ujaran kebencian semuanya muncul ketika membahas topik ini. Sungguh sangat disayangkan, jika kita melihat bahwa dahulu bangsa kita terkenal dengan keramahan dan toleransi antar umat beragama. Namun, kali ini kita dilihatkan dengan keadaan yang sangat bertolak belakang. Memang, banyak yang mengatakan bahwa mereka yang ribut itu hanyalah buzzer bayaran orang yg memiliki kepentingan. Namun, selama fakta tersebut belum terungkap, kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa iklim bersosial media di Indonesia sangatlah tidak sehat.
    Pandangan para warganet sangat beragam. telah dijelaskan sebelumnya bahwa terdapat 2 sudut pandang besar yang menguasai topik ini yakni kelompok yang menerima dan menolak. Dari kedua kelompok tersebut, banyak yang menyebarkan ujaran kebencian dan informasi bohong dengan tujuan untuk memengaruhi warganet agar percaya dengan narasi yang mereka sampaikan.
    Konsekuensi yang kita dapatkan dari fakta di atas yaitu kita harus menerima fakta bahwa lingkungan sosial media sangat berbahaya dan sangat menjerumuskan apabila kita tidak bisa membatasi informasi yang akan kita konsumsi. Dari topik ini pula timbul sebuah pertanyaan besar dari penulis sebagai pembaca dan pengamat topik dibubarkannya FPI. Pertanyaan tersebut yaitu mengapa banyak orang yang mudah terprovokasi oleh narasi negatif tersebut? mengapa banyak warganet yang mudah menyebarkan informasi negatif tersebut? entahlah, hingga saat ini penulis belum menemukan jawaban yang pasti. Pertanyaan tersebut haruslah kita renungkan bersama, dengan tujuan untuk mendapatkan jawaban pasti dan menghindari masalah serupa di kemudian hari.
5. Mengapa Topik Ini Ramai Diperbincangkan di Instagram
    Dari analisis penulis, topik ini menjadi hangat karena banyaknya massa FPI dan orang-orang yang tidak menyukai FPI. Ketika membuka trending dibubarkannya FPI di twitter, hal pertama yang mungkin akan kita lihat yaitu penolakan atau dukungan kepada pemerintah karena telah mengeluarkan keputusan tersebut. Selain itu, terdapat pikiran liar dari warganet yang cukup masuk akal. Hal tersebut yaitu apakah pembahasan tentang dibubarkannya FPI ini merupakan pengalihan isu dari kasus korupsi yang kemarin viral? Bisa benar bisa juga tidak. Terdapat beberapa hal yang membuat penulis mulai memercayai pikiran liar tersebut, terlebih karena putra dari presiden dicurigai turut andil dalam kasus ini. Selain itu, berita dari kasus korupsi yang dilakukan oleh mentri sosial pun kini tidak ramai diperbincangkan. Alih-alih mengawal dan menyelesaikan kasus tersebut, para warganet justru lebih sibuk mengurus dan membicarakan berita dibubarkannya FPI.
    Dari hal di atas, literasi media menjadi hal yang perlu kita jadikan bekal untuk menjelajah sosial media yang luas ini. Bukan tanpa sebab, karena sangat banyak sekali fakta dilapangan yang memerlihatkan informasi hoax dan ujaran kebencian. Setidaknya, dengan memahami bahwa setiap pesan dari media dikonstruksi sebelum disebarkan di masyarakat. Kita akan lebih mengeritisi dan berhati-hati ketika disuapi oleh informasi dari media dan warganet yang tidak jelas asal-usulnya. 
Kesimpulan
    Berdasarkan hasil analisis yang telah dibuat dapat disimpulkan bahwa pengaruh pemberitaan yang disebar melalui ketiga media yang berbeda tersebut dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap persebaran informasi di masyarakat.
    Melalui tools 5 Core Concepts dan 5 Key Questions, dapat disimpulkan bahwa pesan media yang di konstruksi secara berulang pada pemberitaan mengenai pembubaran FPI memanfaatkan isu yang sedang terjadi di masyarakat. FPI yang beberapa bulan belakangan selalu terlibat pada beberapa kasus menjadi sorotan publik yang berakhir pada pembubaran FPI sendiri. Sorotan publik tersebut membuat beberapa media memanfaatkan ide kreatif untuk menarik atensi masyarakat untuk lebih mengetahui perkembangan berita tersebut. Hal ini didasarkan pada tiga media yang menjadi bahan analisis dimana ketiga media tersebut seringkali memunculkan headline yang menarik perhatian publik.
    Persepsi pada masyarakat sangatlah beragam terhadap pemberitaan mengenai FPI juga terlihat di ketiga media tersebut, dimana ada kubu pendukung pemerintah dan kubu pendukung FPI. Persepsi kedua kubu tersebut sangat berbeda satu sama lain, namun tidak sedikit pula yang hanya mengikuti kubu tertentu tanpa memahami permasalahan yang sedang terjadi. Perbedaan pendapat dari kedua kubu dimana kubu pendukung FPI menyayangkan sikap pemerintah yang membubarkan FPI dan pendukung pemerintah yang mendukung kebijakan pemerintah terhadap pembubaran FPI sangatlah panas. Pemberitaan yang dibuat seolah untuk menutupi berbagai macam kasus di Indonesia menjadi titik permasalahan perbedaan pendapat saat ini.

(Penulis: Muhammad Euri Tarmizi, Denda Aditya Nugraha, Ganjar Aji Fajar)

REFERENSI

Alasan pemerintah membubarkan FPI. (n.d.). Retrieved January 6, 2021, from https://newssetup.kontan.co.id/news/alasan-pemerintah-membubarkan-fpi

Nasionalita, K. (2014). Relevansi Teori Agenda Setting Dalam Dunia Tanpa Batas. Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna, 5(2), 156. https://doi.org/10.30659/jikm.5.2.156-164

Pemerintah Disebut Anti Ormas Islam usai Bubarkan FPI, PBNU: Kalau Iya, yang Lain Bubar Juga - Pikiran Rakyat Tasikmalaya. (n.d.). Retrieved January 6, 2021, from https://tasikmalaya.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-061210846/pemerintah-disebut-anti-ormas-islam-usai-bubarkan-fpi-pbnu-kalau-iya-yang-lain-bubar-juga

Perajin Tahu dan Tempe di Lebak Ikut Mogok, Minta Jokowi Subsidi Kedelai - Metro Tempo.co. (n.d.). Retrieved January 6, 2021, from https://metro.tempo.co/read/1419564/perajin-tahu-dan-tempe-di-lebak-ikut-mogok-minta-jokowi-subsidi-kedelai

Komentar